Perbankan Kok Jadi Lebih Bahaya dari Rayap Kasur

Moralika

10 Apr 2026

ILUSTRASI: Rayap kasur sedang menggerogoti tumpukan uang kertas. (Moralika/By AI)

Tiba-tiba saya teringat pada kebiasaan lama orang Madura. Kebiasaan “menyimpan uang di bawah kasur.”

Sudah sejak dulu, orang Madura memang gemar menabung. Sedikit demi sedikit, uang hasil kerja kerasnya disimpan untuk keperluan hari esok.

Biasanya, uang itu diselipkan di bawah kasur. Katanya sih agar lebih aman. Sebab kalau di lemari, sepertinya rawan jadi incaran maling.

Tapi bagi saya, keyakinan itu tidak sepenuhnya benar. Karena dari banyak kejadian, uang yang disimpan di bawah kasur malah dimakan rayap. Bahkan jumlahnya sampai mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan. Sungguh sayang.

Lambat laun, kebiasaan serupa pun makin jarang dilakukan. Sekarang sudah hampir tidak ada orang Madura yang menyimpan uang di bawah kasur. Sekalipun ada, paling hanya beberapa di antara nenek-nenek yang kurang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Budaya menabung mulai bergeser ke perbankan. Katanya, menyimpan uang di bank akan lebih aman dari incaran maling, atau bahkan dari ancaman dimakan rayap.

Ya, tapi pernyataan itu hanya “katanya.” Belum tau yang sebenarnya seperti apa? Sebab saya belum pernah menabung uang di bank. Paling-paling saldo rekening cuma numpang mampir, lalu diambil sepenuhnya. Maklum, transaksi keuangan saya cuma bernilai ratusan ribu. Sama sekali tidak besar.

Sejak mengenal sistem perbankan, saya sempat ada keinginan untuk menabung di bank. Setidaknya dimulai dari angka rupiah kecil semampunya. Tapi, sepertinya keinginan itu malah runtuh ditimpa kekhawatiran belakangan ini. Bagaimana tidak, sementara kasus kebobolan sistem perbankan makin marak terjadi.

Sebut saja salah satunya kasus yang terjadi di Bank Jatim Cabang Sumenep. Sebuah peristiwa kebobolan sistem perbankan hingga menyebabkan kerugian bernilai puluhan miliar.

Sebenarnya, masalah ini adalah kasus lama. Peristiwa yang diperkirakan terjadi mulai tahun 2019, namun baru berhasil terungkap pada tahun 2022.

Bagi saya, perjalanan waktu tersebut tidak sebentar. Apalagi nilai kerugiannya diperkirakan mencapai total Rp23 miliar. Tentu ini nominal yang tidak sedikit.

Usut punya kabar, selama kurun waktu 2019 sampai 2022, sistem Bank Jatim tidak mampu mendeteksi transaksi keuangan yang menjadi sumber masalah. Ya, transaksi melalui mesin Electronic Data Capture (EDC) yang diduga dioperasikan oleh salah satu mitra perbankan pelat merah tersebut, “Bang Alief”.

Sampai sekarang saya masih bingung dalam memahami peristiwa ini. Pertama, bukankah mesin EDC perbankan perlu dilakukan aktivasi terlebih dahulu untuk bisa digunakan. Sementara dalam proses aktivasi, biasanya harus dikoneksikan terhadap server utama aplikasi.

Jika benar seperti itu, lalu mengapa aktivitas transaksi keuangan melalui mesin EDC mitra perbankan bisa lolos dari pantauan sistem aplikasi. Menurut polisi, sistem yang bobol ini baru diperbaiki pasca kasusnya terungkap pada tahun 2022. Setelah itu pula, data transaksi yang bermasalah dapat terbaca.

Polisi juga menyebutkan, proses pengadaan mesin EDC untuk mitra Bank Jatim, tidak dilaporkan oleh bagian pemasaran kepada pimpinan manajemen. Sehingga hal itulah yang dianggap sebagai cikal-bakal lolosnya pengawasan dari manajemen perbankan terhadap mitra yang mengoperasikan mesin EDC.

Jujur, keterangan itu belum membuat saya puas. Sebab pada dasarnya, aktivasi hingga operasionalisasi mesin EDC, tidak mungkin bisa lolos dari pantauan server utama. Apalagi, perangkat tersebut harus terkoneksi pada sistem server utama untuk bisa digunakan.

Lalu, jika sudah terkoneksi, bukankah semua data transaksi dapat terinput. Lebih-lebih jangka waktu terjadinya perkara diperkirakan berlangsung sekitar empat tahun, dari 2019 sampai 2022. Nominal kerugiannya pun tidak kecil, mencapai puluhan miliar.

Sangat tidak rasional rasanya jika tiap rupiah saldo kas rekening perbankan malah berkurang atau hilang tanpa diketahui alur keluarnya. Sedangkan di samping itu, transaksi keuangan hanya bisa dilakukan by-sistem melalui transfer rekening.

Entahlah, apakah ini merupakah kebobolan sistem yang terjadi tanpa disengaja atau malah sebaliknya, yaitu terencana dan tersistematis. Kasus ini belum bisa ditebak sepenuhnya, sebab sampai sekarang, polisi juga belum menuntaskan proses penelusuran perkara tersebut.

Namun yang jelas, kejadian ini berhasil membuat saya kurang percaya diri untuk menabung uang di bank. Meskipun perusahaan bank tersebut adalah milik pemerintah sekalipun.

Bagi saya, kealpaan sistem tidak seutuhnya dapat dijadikan alasan. Karena semua itu sangat bergantung pada tiap personal yang memegang kendali.

Atas terjadinya kasus ini, saya malah menganggap tempat paling aman untuk menyimpan uang yaitu di dompet istri. Bonusnya, menu masakan di dapur bisa lebih terjamin dan ekonomi pun akan teratur. Menabung uang di bank, terasa lebih menakutkan daripada bahaya dimakan rayap kasur. (*)

Author Image

Author

Moralika

Tinggalkan komentar

iklan affiliate