Bahas Krisis Ekologi Lewat Simposium Internasional, UKWMS dan AFTI Targetkan Keselarasan Etika Kemanusiaan dengan Alam

Moralika

4 Mar 2026

RUANG PENDIDIKAN: Gedung Kampus UKWM Surabaya. (Moralika/Dok. UKWMS Surabaya)

Surabaya, moralika.com – Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan Asosiasi Filsafat-Teologi Indonesia (AFTI) menggelar simposium internasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Surabaya selama tiga hari, mulai Rabu-Kamis (4–6/03/2026). 

Simposium bertajuk “Humanity, Justice, and Ecological Schemes: Rethinking Ethics, Technology, and Sustainability” itu, dilaksanakan secara luring dan daring. Pusat kegiatannya bertempat di Gedung IMAVI, Kampus Pakuwon City UKWMS, Kampus Pakuwon City Surabaya.

Terdapat 35 pembicara yang dihadirkan selama sesi paralel dalam agenda tersebut. Mengenai topik yang dibahas, meliputi kerusakan ekologis dan tanggung jawab manusia; dehumanisasi di era teknologi; ketimpangan sosial dan ketidakadilan ekologis; disorientasi kultural; hingga relasi filsafat dan iman dalam masa depan kemanusiaan.

Simposium internasional ini, menghadirkan dua pembicara utama. Mereka adalah Prof. Prospero C. Naval Jr. dari University of the Philippines. Kemudian ada Dr. Luis Gouveia Leite dari Institut Superior Filsafat dan Teologi Dom Jaime Garcia Goulart de Timor-Leste.

Prospero membawakan makalah berjudul “From Pixels to Wisdom: AI and the Ethics of Contemplative Care for our Oceans”, pada sesi penyampaian materi kegiatan tersebut. Karya ilmiah tersebut, membahas tentang analisis kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) dengan etika pelestarian laut.

Sedangkan Luis, membawakan  makalah “Relasi Etis Manusia-Tumbuhan dalam Etika Tanggung Jawab Hans Jonas dan Lulik di Timor-Leste”. Melalui makalah ini, Luis menghadirkan perspektif etika tanggung jawab dengan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam.

Ketua Panitia, Dr. Anastasia Jessica mengatakan, pelaksanaan simposium itu sebagai respons atas krisis ekologis global yang kian menguat. Menurutnya, krisis ekologis global mampu memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor. Mulai dari perubahan iklim, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga ketimpangan sosial.

“Kita dapat melihat ketimpangan antara kelompok yang terdampak dengan pihak yang diuntungkan dari eksploitasi lingkungan,” kata Jessica.

Persoalan krisis ekologi global, dianggapnya bukan sekadar isu teknis. Lebih dari itu, hal demikian merupakan problem struktural yang berakar pada paradigma pembangunan dan relasi manusia dengan alam. Kata dia, model pembangunan saat ini cenderung berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan manusia.

“Model tersebut kurang memperhatikan batas-batas alam,” tegasnya.

Simposium internasional ini, dimaksudkan sebagai ruang refleksi mendalam bagi peserta. Khususnya, untuk mengkaji ulang terkait kerangka etika, tanggung jawab moral, serta implikasi sosial. Baik dalam hal kebijakan hingga perkembangan teknologi. 

“Ini untuk merumuskan pendekatan yang lebih adil dan berkelanjutan, sekaligus menjembatani kepentingan kemanusiaan dengan keberlanjutan ekologis,” tandasnya.

Pembahasan dalam simposium ini, juga menyoroti dampak percepatan teknologi. Terutama mengenai kecerdasan buatan alias AI dan sistem digital terhadap nilai kemanusiaan dan kohesi sosial. Pelaksanaan simposium dibuka untuk umum. (*/bus)

Author Image

Author

Moralika

Tinggalkan komentar

iklan affiliate