JAKARTA, moralika.com – Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Pada Senin (6/4/2026) pagi, mata uang Garuda sempat dibuka melemah tipis ke level Rp 17.003 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,006% jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya pada Kamis (2/4/2026) yang berada di level Rp 17.002 per dolar AS. Meski sempat menembus angka psikologis baru, rupiah terpantau langsung berupaya berbalik arah menguat ke bawah level Rp 17.000 tak lama setelah perdagangan dibuka.
Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan
Hingga pukul 09.00 WIB, tren pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sebagian besar mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan zona merah terhadap the greenback. Peso Filipina menjadi yang paling terpuruk dengan koreksi tajam sebesar 0,52%.
Beberapa mata uang regional lainnya yang turut tertekan antara lain:
- Dolar Taiwan: Melemah 0,19%
- Ringgit Malaysia: Terkoreksi 0,05%
- Dolar Singapura: Tergelincir 0,04%
Di sisi lain, Yen Jepang menunjukkan ketangguhan dengan menguat tipis 0,006%. Won Korea Selatan tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik di Asia pagi ini setelah berhasil melonjak 0,15%.
Sentimen Pasar Global
Kondisi pasar keuangan Asia yang mayoritas terkoreksi ini dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Selain pergerakan kurs, pasar juga tengah mencermati fluktuasi harga komoditas, di mana harga emas Antam pada hari yang sama dilaporkan turun signifikan sebesar Rp 26.000 menjadi Rp 2.831.000 per gram.
Para pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar, mengingat pergerakan rupiah yang masih bergerak tipis di sekitar level Rp 17.000. Penguatan tipis pada Baht Thailand (0,05%) dan Dolar Hong Kong (0,01%) memberikan gambaran bahwa sentimen pasar masih sangat bervariasi di awal kuartal kedua tahun 2026 ini.







