Moralika.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan pada Kamis, 21 Mei 2026, ditutup di kisaran Rp 17.667 setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang hari.
Pergerakan ini terjadi di tengah sentimen kehati-hatian pasar menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal pertama Indonesia yang dijadwalkan pada Jumat.
Pada perdagangan Kamis sore, rupiah melemah sebanyak 13 poin terhadap dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh level Rp 17.667.
Mata uang Garuda ini dibuka menguat tipis 2 poin atau 0,01% pada level Rp 17.651 per dolar AS sebelum kembali tertekan.
Secara lebih luas, Rupiah telah menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa waktu terakhir, dengan penurunan 3,07% selama sebulan terakhir dan 8,03% dalam 12 bulan terakhir.
Faktor eksternal, seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, serta potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve AS, turut memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.
Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi AS terus melampaui target 2%.
Dari sisi internal, permintaan dolar yang tinggi untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan aliran dana terkait ibadah haji juga menjadi pemicu pelemahan.
Intervensi Bank Indonesia (BI) dalam menstabilkan nilai tukar telah menyebabkan cadangan devisa menurun sekitar USD 10 miliar hingga April.
Selain itu, keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk memberlakukan kebijakan baru pada ekspor sumber daya alam utama juga membuat investor cenderung menghindari risiko, menambah tekanan pada rupiah.
Para analis dari Trading Economics memperkirakan rupiah akan diperdagangkan pada level 17.559,45 pada akhir kuartal ini dan 17.333,40 dalam 12 bulan ke depan.
Meskipun demikian, Bank Indonesia menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026, didukung oleh instrumen moneter yang kuat.
Pembuat kebijakan juga mengharapkan stabilisasi musiman pada pertengahan tahun ini.








