Lawan Manipulasi Informasi, AJI Indonesia Didorong Jurnalis Jatim Bongkar FIMI dan DIMI

Moralika

3 Mar 2026

KOMPAK: Jurnalis peserta Workshop Penelusuran Informasi Terbuka berfoto bersama usai kegiatan, Minggu (01/03/2026). (Moralika/Dok. Panitia)

Surabaya,moralika.com – Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI Indonesia) melalui program Indo-Pacific Media Resilience (IPMR) menggelar Workshop Penelusuran Sumber Terbuka dan Disinformasi. Kegiatan tersebut sebagai upaya memperkuat daya tahan jurnalis di tengah derasnya manipulasi informasi.

Pelatihan yang diikuti 25 jurnalis dari berbagai daerah di Jawa Timur ini, dilaksanakan di Hotel Santika Pandegiling, Surabaya. Kegiatannya berlangsung selama dua hari, Sabtu (28/02/2026) hingga Minggu (01/03/2026).

Workshop tersebut menitikberatkan pada penguatan kapasitas jurnalis dalam membaca, menelusuri, dan memverifikasi informasi digital. Fokus utamanya pada penggunaan teknik Open Source Intelligence (OSINT) untuk membongkar pola manipulasi informasi yang kian canggih dan terstruktur.

Materi awal membedah konsep Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI). Materi ini berkaitan dengan praktik manipulasi informasi yang dilakukan secara terkoordinasi dan disengaja oleh aktor asing guna mendistorsi ruang publik.

Trainer sekaligus Ketua Bidang Internet AJI Indonesia, Adi Marsiela, menegaskan FIMI merupakan ancaman serius bagi demokrasi dan proses politik. Sedangkan operasi informasi serupa, kerap luput dari jerat hukum formal.

“Aktivitas manipulatif, disengaja, dan terkoordinasi ini bersifat tidak sah karena melanggar kebijakan platform digital,”,” ujarnya.

Selain FIMI, peserta juga diperkenalkan pada Domestic Information Manipulation and Interference (DIMI). Co-trainer pelatihan, Artika Rachmi Farmita, menjelaskan DIMI bekerja dengan logika serupa, namun menyasar ruang politik domestik.

DIMI kerap tampil sebagai kampanye terkoordinasi yang menyamar sebagai percakapan wajar warga. Media sosial dimanfaatkan untuk memproduksi konten seolah-olah organik, padahal sarat rekayasa.

“Operasi DIMI biasanya dikemas rapi, seakan berasal dari pengguna biasa. Ini dirancang untuk memengaruhi opini politik,” jelas anggota Bidang Kampanye AJI Indonesia itu.

Hari pertama pelatihan ditutup dengan praktik OSINT. Peserta dilatih menelusuri jejak digital, memverifikasi sumber, serta mengidentifikasi pola informasi manipulatif di ruang daring.

Hari kedua, diskusi diperluas dengan perspektif akademik. Akademisi Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Radityo Dharmaputra, bersama peneliti CELIOS, Yeta Purnama, menyoroti arus informasi global yang tak pernah benar-benar netral.

Keduanya menilai, informasi kerap dijadikan instrumen politik oleh negara maupun aktor tertentu untuk memperkuat kepentingan domestik dan posisi geopolitik di level internasional. Menurut mereka, pemahaman atas FIMI menjadi bekal penting bagi jurnalis agar tidak terjebak dalam narasi global yang tampak objektif, namun sesungguhnya manipulatif.

Peserta asal Sumenep, Iqbal Fuadi Hasbuna, mengakui disinformasi memiliki dampak luas bagi masyarakat. Dia menegaskan, jurnalis harus hadir sebagai penerang di tengah kabut informasi yang menyesatkan.

“Pelatihan ini membuka cara pandang saya tentang informasi yang sengaja dipelintir untuk kepentingan politik tertentu,” katanya.

Nada serupa disampaikan Yuni, anggota AJI Jember. Menurutnya, banjir disinformasi menuntut jurnalis memiliki pisau analisis yang tajam dan keberanian bersikap kritis.

“Materinya relevan, bukan hanya bagi reporter, tapi juga pemimpin redaksi. Idealnya, pengetahuan semacam ini juga menjangkau publik luas yang paling rentan terpapar manipulasi informasi,” ujarnya. (*/bus)

Author Image

Author

Moralika

Tinggalkan komentar

iklan affiliate