Sumenep, moralika.com – Jumlah anak dengan kondisi stunting di Kabupaten Sumenep pada awal tahun 2026 masih cukup tinggi. Berdasar data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berenca (Dinkes P2KB) Sumenep, angkanya mencapai 3,2 persen atau 1.789 anak.
Sebaran angka stunting ini hampir menyeluruh di semua kecamatan yang ada di Kota Keris, baik di wilayah daratan atau pun kepulauan. Namun, dominasi tertinggi tersebar di delapan kecamatan, meliputi Bluto, Rubaru, Pragaan, Kalianget, Kangayan, Masalembu, Dungkek dan Sapeken.
Anggota Komisi IV DPRD Sumenep, Virzannida Busyro mengatakan, sejauh ini telah dilakukan penelitian secara intensif untuk mengetahui penyebab tingginya angka stunting di daerah. Bahkan, dalam penelitian itu sengaja melibatkan dinas teknis, yaitu Dinkes P2KB Sumenep.
Hasil yang didapatkan, pemicu bengkaknya angka stunting di Sumenep mayoritas akibat kurangnya pengawasan dari orang tua. Sedangkan, stunting yang diakibatkan faktor kemiskinan, persentasenya relatif kecil.
Sehubungan dengan itu, Virzannida juga menegaskan, Sumenep memiliki sumber daya yang cukup melimpah. Salah satunya seperti ikan laut sebagai sumber protein hewani yang sangat bagus untuk pertumbuhan anak.
“Masih banyak orang tua yang justru menyibukkan anaknya dengan memberi tontonan sosial media, bahkan tanpa terlalu memperhatikan kebutuhan pertumbuhan anaknya,” kata dia, Selasa (10/02/2026).
Kurangnya perhatian terhadap anak dianggap sebagai suatu hal yang cukup berpengaruh terhadap proses tumbuh kembangnya. Sebab dengan begitu, maka kebutuhan gizi untuk anak cenderung tidak diperhatikan dengan baik.
“Ada juga orang tua yang kurang teredukasi. Asupan protein dianggap cukup dipenuhi dengan ASI tanpa ada tambahan asupan yang lain,” jelasnya.
Virzannida menegaskan, upaya pengentasan kemiskinan harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah. Program pemberian makanan tambahan (PMT) yang direalisasikan oleh Pemkab Sumenep saat ini didorong agar lebih optimal.
Selain itu, sosialisasi untuk meningkatkan edukasi terhadap orang tua juga penting untuk lebih dimasifkan. Supaya ketelatenan dalam mendampingi anak bisa dilakukan lebih baik dengan memperhatikan asupan kebituhan gizi.
“Pemerintah daerah bisa memperhatikan stunting secara serius,” tandasnya. (*/bus)






