Madura Batik Fest 2026 Digelar, Generasi Muda Diminta Rawat Warisan Budaya

Moralika

21 Mei 2026

TERAMPIL: Peserta Madura Batik Fest 2026 sedang belajar membatik di areya Pendopo Agung Keraton Sumenep, Rabu (20/05/2026). (Moralika/Dok. Panitia)

Sumenep, moralika.com – Madura Batik Fest 2026 resmi dibuka dengan mengangkat tajuk “Batik Madura Bangkit: Merawat Warisan, Menguatkan Identitas Bangsa.” Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pendopo Agung Keraton Sumenep pada Rabu (20/05/2026).

Penyelenggaraan festival ini menggandeng Pengurus Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sumenep. Terdapat sejumlah rentetan agenda dalam kegiatan ini, mulai dari pelatihan dan workshop membatik hingga pameran batik.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Sumenep, Huzbul Wathan, hadir mewakili Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, dalam pembukaan event tersebut. Dia menyampaikan, pengembangan batik tidak sebatas menjaga tradisi daerah, tetapi juga menjadi strategi penguatan ekonomi masyarakat.

“Pemkab Sumenep terus mendukung pengembangan batik, salah satunya menjadikan batik sebagai seragam pejabat setiap hari Jumat,” katanya.

Karena itu, Wathan mengajak masyarakat ikut menjaga budaya lokal agar batik tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumenep. Selain batik, pemerintah daerah disebut mulai memperluas upaya pelestarian budaya melalui kebijakan memasukkan keris sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

“Pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya untuk membumikan kebudayaan lokal Sumenep,” tegasnya.

Penyelenggara kegiatan, Sayuti, menyebut Madura Batik Fest 2026 tidak berhenti pada seremoni pembukaan. Panitia menyiapkan rangkaian kegiatan lanjutan sebagai upaya menghidupkan kembali budaya lokal yang mulai ditinggalkan.

“Acara ini akan berlanjut dan nanti ada pameran juga. Kami ingin mengangkat budaya Sumenep,” ujarnya.

Dalam setahun ke depan, panitia menargetkan sedikitnya enam agenda kebudayaan, terutama untuk budaya lokal yang dinilai mulai kehilangan perhatian publik.

Ketua PC IPNU Sumenep, Ainul Yakin, mengatakan keterlibatan IPNU dan IPPNU menjadi bentuk partisipasi pelajar. Khususnya yaitu dalam hal upaya menjaga keberlangsungan budaya Madura, terutama batik.

Menurut dia, pelajar tidak hanya diharapkan mampu berperan sebagai peserta kegiatan. Lebih dari itu dia menekankan, pelajar harus bisa menjadi penggerak pelestarian budaya di tengah masyarakat.

“Melestarikan budaya bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh budaya, tetapi tanggung jawab bersama,” pungkasnya. (*/bus)

Author Image

Author

Moralika

Tinggalkan komentar