Masalembu dan Harapan Nelayan yang Terapung

Moralika

25 Jun 2026

TRADISI BUDAYA: Nelayan Pulau Masalembu melaksanakan acara petik laut di perairan laut setempat. (Moralika/Istimewa)

Puluhan perahu berlayar perlahan di perairan Masalembu pada Selasa, 23 Juni 2026. Ritual Rokat Tase’ itu berlangsung meriah. Hanya, kali ini tersimpan kegelisahan panjang nelayan terhadap laut yang kian tertekan.

MOH BUSRI, Sumenep, Moralika.com

Sekitar 20 perahu ikut memeriahkan tradisi petik laut yang digelar Kelompok Nelayan Masalembu. Puluhan warga dari berbagai usia turut larut dalam suasana penuh kebersamaan.

Bagi masyarakat Masalembu, laut bukan sekadar hamparan air yang mengelilingi pulau. Laut adalah sumber penghidupan, ruang budaya, sekaligus bagian dari identitas mereka.

Kepulauan Masalembu berada di persimpangan arus Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Letak strategis ini menjadikannya rumah bagi ribuan nelayan kecil.

Sebagian besar warga menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan. Hamparan laut itu menjadi tempat menabur benih pengharapan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tiap hari.

Bagi mereka, Rokat Tase’ memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual tradisi tahunan. Semua itu telah menjadi simbol hubungan mendalam antara masyarakat dan laut.

Setiap tahun, warga menggelar ritual sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan. Namun tahun ini, suara yang mengemuka bukan hanya tentang syukur.

Warga sengaja memasang spanduk berisi pesan atas kegelisahannya di antara perahu dan iring-iringan di tengah laut. Kini kondisi laut Masalembu dianggap sangat memprihatinkan.

“Kami ingin masalah nelayan juga didengar banyak pihak,” ujar Sahri, salahh satu nelayan asal Pulau Masalembu.

Menurutnya, Rokat Tase’ bukan hanya ruang kebudayaan dan keagamaan. Tradisi itu juga menjadi wadah menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan nelayan.

Beberapa tahun terakhir, hasil tangkapan nelayan disebut terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan masyarakat pesisir.

Salah satu penyebab yang disorot adalah aktivitas kapal luar daerah. Sejumlah kapal disebut menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

“Cantrang masih banyak beroperasi di perairan Masalembu,” ucapnya.

Meski beberapa kapal pernah ditindak aparat, persoalan itu tak kunjung selesai. Nelayan masih menemukan aktivitas serupa di sejumlah titik perairan.

Masalah yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada kerusakan ekosistem laut. Perubahan iklim juga ikut memengaruhi kehidupan para nelayan.

Musim ikan semakin sulit diprediksi dari tahun ke tahun. Cuaca ekstrem dan perubahan arah angin membuat aktivitas melaut semakin berisiko.

Bahkan, nelayan juga menghadapi persoalan infrastruktur dan akses ekonomi. Kebutuhan bahan bakar menjadi salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan.

Ketua Kelompok Nelayan Masalembu, Rendy Ansah, menilai akses solar subsidi masih sangat terbatas. Kondisi itu membuat biaya operasional nelayan semakin tinggi.

Menurutnya, pembelian solar subsidi sering dibatasi hanya 10 hingga 20 liter. Padahal kebutuhan melaut banyak nelayan mencapai 30 hingga 40 liter.

“Nelayan akhirnya membeli solar dengan harga lebih mahal,” katanya.

Rendy mengaku banyak nelayan telah mengantongi surat rekomendasi pembelian BBM subsidi. Namun di lapangan, solar tetap sulit diperoleh sesuai kebutuhan.

Persoalan tersebut berdampak langsung pada pendapatan masyarakat pesisir. Semakin besar biaya melaut, semakin kecil keuntungan yang dibawa pulang.

Krisis sosial-ekologi itu juga dirasakan perempuan nelayan. Mereka menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi perikanan di Masalembu.

Perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga dan keluarga. Banyak di antara mereka yang ikut menjual serta mengolah hasil tangkapan ikan.

Melli Wulandari merasakan langsung dampak menurunnya hasil tangkapan nelayan. Baginya, kerusakan laut berarti ancaman terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga.

“Jika laut rusak, ikan akan berkurang dan pendapatan ikut menurun,” katanya.

Kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi setiap hari. Sementara harga berbagai kebutuhan pokok terus mengalami kenaikan.

Berbagai tekanan tersebut, menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk tetap menjaga tradisi Rokat Tase’. Mereka percaya laut harus dihormati sekaligus dijaga keberlanjutannya.

Tradisi tersebut bahkan menjadi ruang berkumpul dalam menguatkan solidaritas warga pulau. Pada saat yang sama, suara kolektif nelayan kembali digaungkan.

Melli berharap seluruh pihak ikut menjaga laut Masalembu. Menurutnya, laut yang sehat akan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Riuh perayaan petik laut terus digemakan dari kepalan tangan nelayan Masalembu. Laut yang selama ini memberi kehidupan kini sedang meminta pertolongan.

“Laut harus dijaga demi kehidupan kita bersama,” pungkasnya. (*/bus)

Author Image

Author

Moralika

Leave a Comment