Perjalanan panjang melintasi laut dan udara mengantar dua pelajar asal Pulau Sapeken, Sumenep menuju panggung nasional. Meskipun berangkat dari wilayah terpencil di ujung timur Madura, mereka berhasil menembus program kepemimpinan bergengsi Global Future Leaders Network (GFLN).
MOH BUSRI, Sumenep, Moralika.com
Dua pelajar tersebut adalah Agam Satriya Naraendra dan Radif Gibran Hamzah Prawira. Keduanya merupakan siswa kelas XI SMAN 1 Sapeken yang lolos seleksi tingkat nasional.
Capaian itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kepulauan Sapeken. Sebab, akses pendidikan dan pengembangan diri di wilayah kepulauan masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Keberhasilan mereka lahir dari kolaborasi SKK Migas-KKKS Kangean Energy Indonesia bersama pihak sekolah. Dukungan tersebut membuka ruang lebih luas bagi pelajar daerah untuk berkembang.
Mulanya ada lima siswa yang mengikuti tahapan seleksi awal, namun yang berhasil lolos hanya Agam dan Radif. Mereka pun dipercaya mewakili Kepulauan Sapeken pada program nasional tersebut.
GFLN dikenal sebagai program pengembangan kepemimpinan generasi muda berwawasan global. Seluruh peserta wajib melewati proses seleksi yang ketat sebelum diterima.
Selama berada di Jakarta pada 15 hingga 20 Juni 2026, keduanya mengikuti berbagai agenda. Kegiatan meliputi workshop, pelatihan kepemimpinan, dan kunjungan edukatif ke sejumlah institusi.
Mereka mengunjungi SKK Migas, Museum Nasional, Universitas Indonesia, dan fasilitas pengelolaan limbah. Kunjungan itu menjadi pengalaman baru yang memperluas wawasan peserta.
Agam mengaku bersyukur mendapat kesempatan mengikuti program tersebut. Baginya, pengalaman itu membuka cakrawala baru yang sebelumnya hanya dibayangkan dari jauh.
“Kesempatan ini sangat berharga bagi saya,” katanya dengan bangga.
Perjalanan menuju Jakarta meninggalkan kesan mendalam bagi dirinya. Memulai langkahnya dari Pulau Sapeken ke Pagerungan Besar, sebelum akhirnya terbang menuju Surabaya dan Jakarta.
Setibanya di ibu kota, Agam dibuat kagum oleh suasana kota metropolitan. Deretan gedung pencakar langit menjadi pemandangan yang memantik semangatnya untuk terus berkembang.
“Ini pengalaman yang sangat berharga,” ucapnya.
Kata Agam, kesempatan seperti itu sangat jarang untuk bisa dirasakan oleh pelajar asal kepulauan. Karena itu, ia berharap program serupa terus hadir bagi generasi muda Sapeken.
Agam juga menyampaikan apresiasi kepada SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia. Dukungan serupa dinilai membuka kesempatan yang sebelumnya sulit dijangkau pelajar kepulauan.
“Semoga adik-adik lain ikut termotivasi,” ujarnya.
Sebelum mengikuti GFLN, para peserta terlebih dahulu menjalani AFS Global Competence Certification. Program itu berlangsung dalam empat sesi pembelajaran intensif.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman keberagaman dan peran sebagai warga global. Peserta juga mendapat pembekalan mengenai kepemimpinan dan kolaborasi.
Berbagai kegiatan selama GFLN dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Metode pembelajaran dikemas interaktif sehingga mudah dipahami peserta.
“Banyak hal baru yang saya pelajari,” katanya.
Mulai dari kerja tim hingga pengelolaan masalah dipelajari melalui berbagai aktivitas menarik. Peserta juga mendapat pembelajaran tentang perencanaan proyek dan pengelolaan sampah. Seluruh materi dipadukan dengan kuis, permainan, dan kegiatan luar ruangan.
Bagi Agam, pengalaman itu menjadi ruang refleksi untuk memperbaiki diri. Ia menyadari masih banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi pemimpin masa depan.
Dukungan keluarga turut menjadi sumber semangat selama menjalani kegiatan di Jakarta. Orang tuanya rutin menghubungi untuk memastikan kondisi dan aktivitas yang dijalani setiap hari.
“Keterbatasan geografis bukan penghalang untun meraih prestasi. Semuanya dicapai dengan mimpi dan kesungguhan,” ucapnya. (*)








