Sumenep, moralika.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep menjadi sorotan. Pasalnya, menu makanan bergizi gratis (MBG) yang didistribusikan oleh dapur milik Yayasan Bakti Bunda Berjaya itu ditemukan berulang kali tidak layak konsumsi.
Seorang guru di Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Rahman (nama samaran) mengatakan, teguran kepada pihak SPPG sudah sempat disampaikan. Hanya, menu MBG yang didistribusikan masih saja ditemukan tidak layak konsumsi hingga beberapa kali.
“Mulai dari sayuran berulat, lauk ayam basi, hingga nasi yang diduga terkontaminasi ulat,” sebutnya, Jumat (08/05/2026).
Menurut Rahman, menu MBG tidak layak konsumsi pertama kali ditemukan pada 2 Februari 2026. Saat itu, sayuran selada pada menu MBG yang diterima peserta didik diketahui terdapat ulat.
Kejadian kedua berulang pada 8 April 2026. Pasalnya, lauk daging ayam pada menu MBG yang didistribusikan dapur SPPG Batang-Batang Daya berbau basi.
Tidak selesai di situ saja, menu MBG yang diduga tidak layak konsumsi masih ditemukan kembali pada 22 April 2026. Kali ini, pihak sekolah menemukan ulat pada nasi MBG yang diterima peserta didik.
Teranyar, pada Selasa (05/05/2026), menu MBG yang didistribusikan SPPG tersebut masih saja dianggap bermasalah. Kata Rahman, ukuran pisang yang diterima oleh tiap peserta didik tidak seragam.
“Sebagian siswa menerima buah pisang yang ukurannya kecil, sementara yang lain lebih besar,” ujarnya.
Permasalahan tersebut pun sempat ditindaklanjuti oleh Rahman. Dia menyampaikan teguran secara langsung kepada Kepala SPPG Batang-Batang Daya, Zainuddin. Khususnya untuk segera membenahi penyajian menu MBG yang dianggap bermasalah itu.
Meskipun begitu, pihak SPPG diduga masih saja nakal alias tidak mau memperbaiki permasalahan yang terjadi secara berulang. Karena itu, Rahman merasa geram hingga mendesak agar operasionalisasi dapur milik Yayasan Bakti Bunda Berjaya tersebut ditutup secara permanen.
“Dapur ini sudah tidak layak beroperasi dan harus disuspend permanen,” tegasnya.
Menurut Rahman, seharusnya tiap SPPG bisa menjalankan tugas yang telah dimandatkan oleh pemerintah. Khususnya berkaitan dengan menjamin pemenuhan gizi melalui realisasi program MBG.
“Program MBG ditujukan untuk mendukung kesehatan dan pemenuhan gizi anak sekolah, seharusnya SPPG bisa memenuhi tujuan itu,” ujarnya.
Sedangkan dalam persoalan yang terjadi secara berulang di Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, dianggap sebagai insiden serius. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk kelalaian yang dapat mengancam kesehatan peserta didik.
“Jika makanan berulat itu dimakan siswa dan kami tidak mengetahuinya, tentu sangat berbahaya” tegasnya.
Rahman pun mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) dan satuan tugas yang membawahi operasional MBG segera melakukan inspeksi secara menyeluruh terhadap dapur tersebut. Evaluasi tegas, termasuk kemungkinan penghentian operasional, dinilai perlu dilakukan bila pelanggaran serupa terus terjadi.
“Harus segera dilakukan sidak ke lokasi SPPG,” tandasnya.
Kepala SPPG Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep, Zainuddin, belum bisa dikonfirmasi oleh media ini. Dia belum memberikan respons saat dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya. (*/bus)








