Film “Di Balik Ilusi Tembakau” Ungkap Dampak Kesehatan hingga Psikis Akibat Rokok

Moralika

20 Mei 2026

EDUKATIF: AJI Surabaya dan AJI Jakarta menggelar nobar dan diskusi Film “Di Balik Ilusi Tembakau,” di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya, Selasa (19/05/2026). (Moralika/Dok. AJI Surabaya)

Surabaya, moralika.com – Pemutaran Film “Di Balik Ilusi Tembakau” mendapat respons dari beberapa pihak. Agenda nonton bareng dan diskusi film tersebut, salah satunya diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya berkolaborasi dengan AJI Jakarta di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya pada Selasa (19/05/2026).

Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Valina Khiarin Nisa, memberikan tanggapannya terkait film berjudul “Di Balik Ilusi Tembakau,” itu. Menurutnya, karya tersebut sangat komprehensif karena memperlihatkan masalah kesehatan, ekonomi, bahkan trauma psikis akibat rokok.

Bahkan lebih dari itu, Film “Di Balik Ilusi Tembakau,” dianggapnya mampu menjelaskan ilusi tentang rokok yang sampai sekarang masih diyakini oleh banyak perokok. Salah satunya seperti keyakinan tentang rokok yang dipercaya dapat meningkatkan fokus dan membuat nyaman. 

“Merokok bikin fokus, itu kan hanya keyakinan para perokok. Tapi kan mereka belum menguji itu fakta atau bukan,” ujarnya. 

Valina menegaskan, pemerintah harus bisa lebih tegas menerapkan regulasi tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Tiap pelanggaran yang terjadi diminta untuk ditindak dengan sanksi tegas sesuai aturan.

“Aturan tersebut jangan hanya sekadar menjadi slogan,” ucapnya. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, ikut merespons soal pemutaran Film “Di Balik Ilusi Tembakau.” Dia mengatakan film tersebut bisa menjadi salah satu media promosi atau kampanye tentang hal negatif dari rokok.

Menurutnya, penerapan regulasi pemerintah tidak sepenuhnya mampu mengendalikan masyarakat. Karena itu, masih dibutuhkan dukungan dari luar lingkaran pemerintah untuk menyampaikan sosialisasi terkait hal negatif soal rokok.

“Penelanan aturan terhadap masyarakat menjadi semakin lengkap jika dibantu dengan promosi film semacam ini,” ujarnya.

Sejauh ini, lanjut Billy, Surabaya terus menguatkan penerapan regulasi tentang KTR. Pemerintah memberlakukan pembatasan secara jelas terkait pemasangan iklan rokok di dekat sekolah dan rumah sakit.

”Kami juga mengetatkan di kawasan perbelanjaan. Nantinya, ada larangan merokok di kawasan itu,” jelas Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Mohamad Soewandhie itu.

Billy menjelaskan, edukasi terkait rokok sebaiknya dimulai sejak dini. Sementara itu, jangkauan paling mudah yaitu dilakukan dalam lingkungan keluarga.

“Para orang tua harus bisa menekankan bahaya merokok kepada anak-anak,” tegasnya. (*/bus)

Author Image

Author

Moralika

Tinggalkan komentar